Selasa, 17 Februari 2015

MN. Attractive Eyebrow Powder and MN. Eye/Lip pencil

Haloooooww aah berasa baru punya blog aja deh kayak gini. Hufftt entahlah sejak kuliah semuanya serasa gak sempat. Tidur kurang jajan kurang jalan jalan juga kurang. Eitss tapi untuk dandan ups bermake-up ria waktu harus selalu ada. Ah ya aku itu cewek yang gak punya alis :'' bukan dicukur bukan tapi emang dari janin dan lahir memang alis seperti ini saja, kadang orang yang baru sadar langsung ketawa. Memang sih gak terlalu diperhatiin tapi kan yaahh malu juga hiks :".

Tuh.. itu kalau saya yang baru selesai mandi atau belum selesai mandi atau belum pake make up. Sumpah dari smp kenal namanya alis gak pernah bisa pake alis sampai akhirnya nyerah dan berhenti.

But waktu kuliah di kota besar (read: Surabaya) jadi iriiiiiiiii to the max sama cewek yang pinter banget lukis alis. Hiks..
Akhirnya googling sana sini cari cara supaya bisa bikin alis and then try to choose pensil alis by my self.
Seperti amatiran pokoknya apapun alisnya asal bisa ngelukis pasti bagus. And then terpilihlah Viva cosmetic. Saya memang penggemar viva dari dulu tp sama sekali belum pernah nyobain alisnya. Eh tapi ternyata bagus.

Setelah berbulan bulan make kok kayak ada yg kurang ya dan seringkali liat olshop di instagram bertebaran memamerkan jualannya sampe akhirnya kesemsem sama MN. Eyebrow powder. Katanya powder ini gak bikin alis kita jeplak kayak tattoo gitu. Akhirnya saya pesan di @Cantikid hasilnya.... ternyata kalo beli MN eyebrow powder itu kita juga dapat lip/eye pencil nya. Kebetulan aku dapat warna coklat maroon gitu. Cantiiikkk banget. Tapi agak susah makenya :'( entah tapi mesti pake bantuan pensil alis viva juga buat bikin garisnya. Karna gak kayak pensil alis yang bisa nempel ngegaris dikulit mana aja, powder ini lebih berwarna saat ada di bagian alis dengan bulu saja.
Didalamnya itu ada dua warna hitam dan coklat serta kuas khususnya. Untuk pensil warna putih itu punya MN juga yang cantik sekali kalo di pake jadi eyeliner bawah mata atau cilak sih orang kalimantan bilang hhehe. MN. Eyebrow powder ini cuma punya 1 jenis yaitu color No A tapi untuk lip/eye pencilnya bermacam macam. Ada yg putih, coklat dan hitam.


Setelah berminggu minggu belajar make powder eyebrow akhirnya terbiasa juga. Meski cuma punya waktu dua menit hhaha. Dan sejak itu gaakan ada hari tanpa alis kecuali kuliah dan praktikum heemmss.



Product : MN. Attractive Eyebrow Powder Color No.A
Color : black and brown
Recomended 90%


Senin, 16 Desember 2013

Dokterku Farmasisku : Prologue



Cast              :  Via, Rena, Ana, Ela, Rio, Millabes, Rama, Putra, Bagas and another tritologi.

Release      :  6 Feb 2013 –

Genre          :  Life , Knowledge, romance, family, Comedy.

Place            :  Hamburg-nord , Germany.

Language :  English-Deutsch-Indonesian



 
Siapa yang berfikir Farmasi itu indah ?
Mari acungkan tangan ! Dan besok persiapkan diri anda melakukan aktivitas tanpa tangan kanan anda !!
Dulu orang berfikir beasiswa itu mudah didapatkan oleh orang yang kurang mampu meskipun harus melewati segelintir persyaratan –shit- lainnya, tapi itu mudah bukan? Ketimbang orang tak mampu yang berkikis jari mencari uang untuk kuliah. Tapi tahukah kalian bahwa beasiswa itu bukan sebuah keringanan tapi BEBAN yang semakin lama semakin terasa beratnya? So?.....


Samarinda, 12 april 2012 , 14 : 22 WITA

Jadikan ini perpisahan yang termanis yang indah dalam hidupku sepanjang waktu, semua berakhir tanpa dendam dalam hati maafkan semua salahku yang telah menyakitimu..

“terus seleksi gelombang 2-nya kamu ikut lagi?”

“begitu deh.. papa aku pengen banget aku masuk universitas itu, lagipula rumah eyang aku ga jauh dari kampusnya”

“semangat deh ya.. aku yakin kok kamu bisa masuk, doa orang tua itu manjur loh!”

“huh.. mau gamau sih tetep semangat, tapi thanks ya Via.. ngomong-ngomong kamu enak banget sih bulan depan udah mulai ngampus, bahkan sudah diterima sebelum kita bagi raport. Kamu nyogok ya?”

Via tergelak, “hah? Aku juga mikir-mikir kali kalo mau nyogok !” sembur Via “buat apa beasiswa kalo kami nyogok?” lanjutnya.

Ida tertawa  kecil “iya sih hhaha.. kalian berempat kapan berangkat? Berarti ga ikut Prom dong?”

“kami pergi 3 hari setelah Prom kok”

“Via..” . Via dan Ida sontak menoleh ke arah suara, tepat di pintu masuk kelas XII A terlihat partner-in-crime Via lagi berseteru. Terdengar suara sekilas dari perdebatan mereka.

“eh ! kalo kamu mau bawa koper seberat baja-mu itu ke sana mending jangan sama kita berangkatnya deh ! aku gamau ya bantuin kamu bawa itu terus ujung-ujungnya..” omongan Rena terpotong oleh Ana yang menerobos masuk kelas.

“terserah aku dong yang bayar juga papa-mama aku !” marah Ana sambil berjalan menuju –mantan- kursinya di pojok kanan ruangan. Ela yang sedari tadi cuma berperan sebagai pendengar yang baik tanpa minat melerai hanya bisa memandang polos teman-temannya lalu ikut duduk di kursi sebelah Ana –Kursinya dulu-. Sedangkan Rena udah terlihat kesal sedari tadi dan tetap berdiri di depan kelas.

“Via..” teriak Rena. Via langsung mengangkat tangannya. ‘didepannya sendiri aja aku ga kelihatan gimana kalo aku sembunyi? Baru niat sembunyi aja mungkin udah ga keliatan apalagi sembunyi beneran?’ gerutu Via dalam hati.

“kamu tau !”

“enggak!” potong Via. Muka Rena merah padam.

“err.. iyalah kan aku belum ngomong!” semprot Rena. Via melengos.
“si Ana mau bawa barangnya yang kilonya aja ¼ dari berat badan kita tau gak! Ga guna semua lagi barangnya! Dia pikir kita mau ke hutan apa ? sampe bawa selimut, lampu tidur, coverbed, seprai. Aduh please deh !! kamu gih yang bilangin dia!!” sewot Rena berapi-api. Via menatap Ana yang memandang Rena penuh neraka. ‘Gini nih kalo udah dekat hari H.. gaada bedanya kayak study tour dulu’ batin Via.


..
Ela meletakkan note kecil dimeja Via “ini barang-barang yang kita butuhin buat study tour kan?” Via sontak mengambil kertas itu.

“ho’ooh” sahut Via meletakkan kembali kertasnya di atas meja.

“aku udah packing dari kemarin lusa bahkan” sahut Rena tersenyum bangga. Ana menoleh dan tersenyum binar “aku juga” sambungnya bangga.

Hari H

“Assstaaaggaaaa Annaaa.....Kamu bawa apaan?” pekik Rena kaget. Via dan Ela terpaku menatap koper shocking pink Ana yang beratnya mereka tafsir mencapai 5 kilo.

Ana tersenyum bangga, “pokoknya ga bakal kekurangan apa-apa deh kita”. Rena menatap kedua sahabatnya yang masih terpaku lalu kembali menatap Ana “coba sebutin barangnya!” suruh Rena. Ana memutar bola matanya mencoba mengingat. “ada setrikaan, hunger,gayung,heels----

Rena melengos pasrah.

..

“biarin aja sih. Yang mau juga dia, kalo kamu takut Ana nyusahin kita yasudah tinggal aja di Airport” Celetuk Ela yang daritadi diam. Sontak kami semua menoleh, tidak termasuk Ida yang sekarang sudah bergabung dengan teman-temannya.

“AWAS LOE TIDUR BARENG GUE!!!!!!” Teriak Ana murka ke arah ella. Via tersenyum memandang Rena.

“Ssstt.. ayok kita pulang! Lusa kita udah Prom dan sabtu kita berangkat ke Jerman, so siapin diri kalian !” ajak Via tenang lalu berjalan keluar kelas setelah berpamitan kepada teman-teman lainnya yang masih sibuk dengan urusan sekolah yang belum kelar.

-----------------------------

Via, Rena, Ana dan Ela termasuk orang yang beruntung dengan mendapatkan beasiswa dari pemerintah kotanya untuk melanjutkan pendidikan di negeri orang. Dari banyaknya pendaftar yang ikut dalam seleksi beasiswa, mereka adalah orang yang lolos melalui tahap yang tidak mudah. Mereka memilih Jerman sebagai tempat mereka melanjutkan pendidikan, Negara yang sangat mementingkan murid ketimbang hal lain, dalam bidang kesehatan seperti Human Medicine , Pharmacist and etc. Tapi kayak yang kita tau, gak semudah itu untuk bisa masuk kuliah di Universitas terbaik di Jerman. Dengan melewati tahap Studienkolleg untuk bisa masuk ke jurusan Farmasi,  lalu mendaftar ke Universitas yang kami inginkan. Kami tertarik dengan Universitas Humberg-Nord, walaupun semua universitas di Jerman sangat tidak jauh bedanya karena semua Universitas yang memiliki jurusan Pharmacist dan Human Medicine  adalah universitas yang benar-benar High Standar yang menyediakan puluhan rumah sakit khusus di kampusnya, Rumah kami –yang akan kami tinggali- tidak jauh dari kampus dan itu sangat menguntungkan bagi kami.




----------------------------------

Samarinda, Kamis 14 April 2012 19 : 25 WITA

@Aston Hotel Ballroom, Samarinda

Satu persatu siswa SMK Farmasi yang belum lama menjadi Alumni ke- 16 di Smk Farmasi memasuki ruangan Ballroom yang sudah di dekor senyaman mungkin sesuai dengan selera remaja muda tahun ini.
Di pojok ruangan Via dan Rena menunggu Ana dan Ela yang sebentar lagi akan tiba. Mereka berdiri di dekat stand cocktail berada. Via mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan sambil menyesap minumannya pelan. Sedangkan Rena asyik dengan i-Phonenya sejak tadi.
Tidak lama kemudian dua gadis berjalan ke arah mereka dengan menggunakan dress code “black-magic” yang sudah ditetapkan panitia Prom night tahun ini. Ana menggunakan night gown dengan thin silver ban  di pinggangnya yang menjuntai melewati mata kakinya yang dipakaikan weak heels. Sedangkan Ela menggunakan Glamour Gown with hijab yang lagi nge-trend tahun ini yang dipastikan semua yang digunakan pas di badannya.

“kita tepat waktu kan?” Tanya Ana sesampainya di hadapan Rena yang menggunakan Black Tube Dress nya yang sebatas lutut dan Pump heels bludru.

“iya tepat…. Tepat telatnya ! telat lebih dari 30 menit!” ucap Rena penuh tekanan. Sedangkan Via yang masih berdiri tenang di sampingnya hanya tersenyum maklum.

“udahlah.. udah biasa mereka telat” ucap Via santai. Ana dan Ela tersentak.

Rena mengambil dua cocktail lalu memberikannya pada Ana dan  Ela. Lalu mereka berbincang masalah kuliah serta keberangkatan mereka ke Berlin 3 hari lagi menggunakan bahasa Jerman. Hitung-hitung memperlancar kemampuan kami dalam berbahasa Jerman sehingga memperkecil kemungkinan Roaming dalam bicara dan mendengarkan karena Jerman tidak menggunakan English dalam bahasa kesehariannya.
Ditengah-tengah perbincangan mereka---

“ehem” dehem seseorang di belakang punggung Via. Sontak Via berbalik dan yang lain menatap orang itu bingung. Via sedikit terbelalak. ‘Ian?’ ucap Via spontan dalam hati.

Ian tersenyum manis. “hai.. maaf mengganggu, Cuma pengen bicara sebentar sama kamu Vi, bisa?” . Via memandang Ian curiga, namun yang ditatap tetap tersenyum tenang. Via mendengus lalu mengangguk menerima uluran tangan Ian dihadapannya, sebelumnya Via pamit permisi sebentar pada teman-temannya.

Rena, Ela dan Ana saling berpandangan curiga sambil melirik pasangan yang berjalan menjauhi tempat mereka. ‘what will happens’ batin mereka.


-------------------------

Via dan Ian berjalan menjauhi pojok ruangan menuju ke podium yang ada di tengah ballroom. Terdengar lagu Awake dari band Second Serenade yang mengalun histeris di bagian akhir lagu.
Ian menghentikan langkahnya saat mereka tiba di tengah ruangan. Via mendongak memandang wajah Ian yang jauh dari wajahnya, tinggi Via hanya mencapai dagu Ian. Ian tersenyum manis dan menarik tangan Via menggapai tengkuknya sendiri dan meletakkan tangannya sendiri ke pinggang Via yang mengenakan Long Black Dresses with Low neck yang pas sekali di tubuhnya. Ian tersenyum melihat Via yang masih memandangnya polos.

“What’s going on?” Tanya Via setelah sekian lama mereka terdiam. Ian mulai mengajak tubuh Via bergerak mengikuti alunan lagu saat lagu berhenti dan digantikan dengan Don’t You Remember dari Adele.

“Just want to spend my time with you before I couldn’t see you anymore since you have to go to Germany and start to forget me” jawab Ian tenang seolah yang dibicarakan adalah hal mengenai cuaca di Indonesia yang sedang buruk bukan mengenai hal hati.

Wajah Via mengeras. “ Do you think I’d go to foreign collage to forget you? The reason just you? Oh For a God sake I think I getting crazy if that is really the reason why I leaving my Country ! You’re suck boy !”. Via menghentakkan tangan Ian yang berada di pinggangnya seraya memundurkan langkahnya menjauhi Ian yang masih terlihat tenang. Muka Via merah padam menahan amarah.

Ian mendekati Via, spontan Via juga memundurkan langkahnya. “Vi.. it’s not like what’s on your mind ! aku tau kamu pergi buat kuliah tapi ga sejauh itu kan?” Tanya Ian menenangkan. Via mengangkat alisnya bingung sambil tersenyum miring. “it’s not your business Mr. Ian !”

Ian mendengus dan kembali mendekati Via yang kali ini tidak menolak untuk di dekati. “Aku cuma mau sahabatan lagi sama kamu. Is it wrong?” . Via tersenyum sinis “after you tore my heart?”

“I’m so sorry ‘bout that. That’s just a memory-

“for you ! Not at all for me” potong Via keras. Kali ini suasana agak sedikit sepi mengingat jam sudah menunjukkan saat makan malam sehingga tak banyak yang mengetahui keributan kecil mereka.

How about around of applause? A standing ovation
You look so dumb right now
Standing outside my house , trying to apologize

“kamu ga pernah tau rasanya seperti aku saat itu. Aku ga berharap kamu ngerasain dari aku. Karna aku di lahirkan bukan untuk menyakiti seseorang ! bukan sepertimu !”

Please , just cut it out
Don’t tell me a sorry cause you’re not
Baby when I know your always sorry you get cough

“Vi-

“enough ! we’re over. No friend, no mate , no anyone anymore. From now!”
Via mundur menjauhi Ian yang masih terpaku dan wajah terkejutnya. Via berbalik –tes sekuat hati Via menahan semuanya dan kali ini ia berjanji dalam hatinya. Ini akan jadi yang terakhir –terakhir menangisi Ian-


-------

“Makanannya kekerasan”

“makan ya makan aja gausah ngomel!”

“kenapa sih? Suka-suka dong~!”

Rena mengambil sepiring acar lalu meletakkannya di depan Ana dan Ela.

“kenapa?” Tanya Ana dan Ela bingung. Rena memutar bola matanya jengkel. “tuh makan berdua awas kalo ga abis!”

“Iewh~!!!!” keluh Ana dan Ela barengan. “kalian itu Ribut tau gak!” omel Rena “ga penting aja diributin!”
“Ela tuh nah~ too noisy !” jawab Ana sambil melotot garang ke Ela, yang dipelototi mengerutkan kening bingung “kok aku?”

shutup!” potong Rena sebelum perseteruan mereka berlanjut. “Kalian itu—

Brakk—

Rena, Ana dan Ela terlonjak di kursinya. Via duduk di kursinya secara kasar setelah meletakkan piringnya dengan kasar pula. Via mendengus kasar lalu mencoba melahap hidangan yang sempat diberikan panitia saat akan kembali ke tempatnya.

“Kamu kenapa?” tanya Ana pelan melihat Via memotong beef poutine steaknya dengan brutal. Ela memandang ke arah piring Via miris ‘bertahanlah nak.. ibu menunggu kaudatang kemari’batinnya.

Via menghentikkan aksi memutilasi appetizer nya dan memandang Ana “pingin bunuh orang” jawabnya ketus.

“gue?”

“bukan”

“terus?”

Via mendorong piringnya yang sama sekali masih penuh -hanya saja bentuknya saja tak karuan- ke tengah meja bundar. Ela yang melihatnya langsung berbinar dan mengambil piring Via ‘haha..akhirnya kau datang juga nak’batin Ela bahagia. Rena yang sempat melirik Ela melengos tak peduli membiarkannya.

“aku pusing” Via mengusap pelipisnya pelan.


oke.. sekarang waktunya penampilan dari Band Kakak tingkat kami diangkatan ke -16 ini..’
Prok..prokk

Via memandang kearah panggung yang jauh di depannya karena meja mereka terletak di dekat pintu masuk Ballroom.

Bintang malam katakan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya

 Sontak ketiga partner-in-crime Via menatap Via, Via melirik satu persatu sahabatnya miris ‘pingin nangis..huaaa’batin Via. Ana mengusap pelan bahu terbuka Via. Brukk- Via menjatuhkan kepalanya ke meja. Ketiga sahabatnya berpandangan dalam diam lalu pura-pura sibuk dengan makanannya.

----------------------------

Balikpapan, Sabtu 16 April 2012 10:00 WITA

@Sepinggan International Airport

Keempat orang tersebut berjalan tenang menuju Lounge Area tempat mereka menunggu Boarding time setelah check in tadi. Ini hari terakhir mereka berada di Tanah Air tercinta, sebelum pesawat mereka terbang ke Jerman kurang lebih 2 jam lagi.
Mereka memasuki ruangan tertutup khusus penerbangan International. Mereka berjalan mencari kursi kosong di sebelah utara. “Biar nanti kita ga usah antri lagi, kan deket pintu penerbangan” kata Rena.

“eh tapi aku lapar” ucap Ela memberhentikan langkah kami. “lagi?” tanya Via bingung. Masalahnya tadi mereka sudah makan. Ela mengangguk lemas. Akhirnya mereka pergi ke jejeran food counter Chinesse yang tidak begitu ramai. Mereka duduk di dekat jendela bening yang menghadap keluar kearah pesawat-pesawat besar nan-angkuh itu berjejer.

excuse me..are you ready to order Miss?” tanya waitrees membuat mereka langsung mengucapkan pesanan mereka. Cuma Ela yang memesan makanan.

okay.. 1 Gongbao Jiding, 2 Cappucino Float , 2 Naicha. Wait for 15 minutes please” Mereka tersenyum dan mengangguk mempersilahkan waitrees tersebut pergi.

“La, kamu ga kenyang apa? Tadi kita udah makan bakso, sekarang kamu mesen Gongbao jiding lagi?” tanya Via heran “awas kalo muntah di pesawat nanti” lanjut Via. Ela mengangguk mengiyakan.

Gongbao Jiding itu masakan China yang asli pedes banget. Kalo di Indonesia mungkin namanya Ayam Pedes manis tapi super super pedes kali ya, rasanya itu loh menggelegar banget.

Berapa menit kemudian makanan mereka datang. Dan mereka menyantap hidangannya masing-masing.

--------

Ting-

For all passengers, doors of Gordon Airplane boeing 767 towards Berlin was opened. Please do all passengers to board the plane soon. Thank you-

Ting-

Suara intercom menyadarkan Via , Ela , Ana dan Rena yang sibuk dengan urusannya masing-masing. Mereka berdiri dan mulai ikut mengantri.
Via di urutan paling depan di antara sahabatnya memegang tiket mereka agar lebih cepat proses pengecekan tiket. Sebenarnya mereka berada di urutan kedua dari belakang tapi—

Beeilen sie sich! Wir kommen zu spatwie gestern !” –ayo cepat! Nanti kita terlambat lagi seperti kemarin!-

Terdengar segerombol orang dibelakang Via dan yang lainnya berseteru dengan aksen yang mereka tau –aksen deutsch-. Sepertinya mereka baru datang dan langsung mengantri. Via dan yang lain melangkah perlahan mengikuti alur yang maju perlahan dan menuju kabin, seolah tak perduli mereka terus melangkah.

Hey! Es ist deine Schuld du! Nur lastig!!” –Hei! Itu salahmu kau tau? Menyusahkan saja-

Satu penumpang lagi terlewat adalah giliran Via.

“Es ist zum Artz gehen?” –kenapa lama sekali?- . Via mengumpat dalam hati ‘ga sabaran banget sih ni cowok’ batinnya.

Via tersenyum dan menyerahkan tiketnya saat- Hei!! . Via memandang sebal ke arah cowok jangkung yang –kalau tidak salah- cerewet di belakangnya sejak tadi. Rena,Ela dan Ana melotot kaget melihat segerombol pria yang sedari tadi ribut di belakang mereka kini menyerobot barisan mereka.

“Hei! Banks!” –Banci- umpat Via. Pria di depan Via menoleh sebentar lalu kembali menghadap ke depan dan berjalan memasuki kabin. Via mendengus kesal menatap gerombolan pria itu dan menyerahkan tiket secara kasar tanpa mengalihkan pandangannya.

Rena dan yang lain mendahului Via melangkah ke dalam kabin pesawat.

- Continue -