Cast : Via, Rena, Ana, Ela, Rio, Millabes, Rama, Putra, Bagas and another tritologi.
Release : 6 Feb 2013 –
Genre : Life , Knowledge, romance, family, Comedy.
Place : Hamburg-nord , Germany.
Language : English-Deutsch-Indonesian
Siapa yang berfikir
Farmasi itu indah ?
Mari acungkan
tangan ! Dan besok persiapkan diri anda melakukan aktivitas tanpa tangan kanan
anda !!
Dulu orang berfikir
beasiswa itu mudah didapatkan oleh orang yang kurang mampu meskipun harus
melewati segelintir persyaratan –shit-
lainnya, tapi itu mudah bukan? Ketimbang orang tak mampu yang berkikis jari
mencari uang untuk kuliah. Tapi tahukah kalian bahwa beasiswa itu bukan sebuah
keringanan tapi BEBAN yang semakin lama semakin terasa beratnya? So?.....
Samarinda,
12 april 2012 , 14 : 22 WITA
Jadikan
ini perpisahan yang termanis yang indah dalam hidupku sepanjang waktu, semua
berakhir tanpa dendam dalam hati maafkan semua salahku yang telah menyakitimu..
“terus seleksi
gelombang 2-nya kamu ikut lagi?”
“begitu
deh.. papa aku pengen banget aku masuk universitas itu, lagipula rumah eyang
aku ga jauh dari kampusnya”
“semangat
deh ya.. aku yakin kok kamu bisa masuk, doa orang tua itu manjur loh!”
“huh..
mau gamau sih tetep semangat, tapi thanks ya Via.. ngomong-ngomong kamu enak
banget sih bulan depan udah mulai ngampus, bahkan sudah diterima sebelum kita
bagi raport. Kamu nyogok ya?”
Via
tergelak, “hah? Aku juga mikir-mikir kali kalo mau nyogok !” sembur Via “buat
apa beasiswa kalo kami nyogok?” lanjutnya.
Ida
tertawa kecil “iya sih hhaha.. kalian
berempat kapan berangkat? Berarti ga ikut Prom dong?”
“kami
pergi 3 hari setelah Prom kok”
“Via..”
. Via dan Ida sontak menoleh ke arah suara, tepat di pintu masuk kelas XII A
terlihat partner-in-crime Via lagi
berseteru. Terdengar suara sekilas dari perdebatan mereka.
“eh
! kalo kamu mau bawa koper seberat baja-mu itu ke sana mending jangan sama kita
berangkatnya deh ! aku gamau ya bantuin kamu bawa itu terus ujung-ujungnya..”
omongan Rena terpotong oleh Ana yang menerobos masuk kelas.
“terserah
aku dong yang bayar juga papa-mama aku !” marah Ana sambil berjalan menuju
–mantan- kursinya di pojok kanan ruangan. Ela yang sedari tadi cuma berperan
sebagai pendengar yang baik tanpa minat melerai hanya bisa memandang polos
teman-temannya lalu ikut duduk di kursi sebelah Ana –Kursinya dulu-. Sedangkan
Rena udah terlihat kesal sedari tadi dan tetap berdiri di depan kelas.
“Via..”
teriak Rena. Via langsung mengangkat tangannya. ‘didepannya sendiri aja aku ga kelihatan gimana kalo aku sembunyi? Baru
niat sembunyi aja mungkin udah ga keliatan apalagi sembunyi beneran?’ gerutu
Via dalam hati.
“kamu
tau !”
“enggak!”
potong Via. Muka Rena merah padam.
“err..
iyalah kan aku belum ngomong!” semprot Rena. Via melengos.
“si
Ana mau bawa barangnya yang kilonya aja ¼ dari berat badan kita tau gak! Ga
guna semua lagi barangnya! Dia pikir kita mau ke hutan apa ? sampe bawa
selimut, lampu tidur, coverbed, seprai. Aduh please deh !! kamu gih yang bilangin
dia!!” sewot Rena berapi-api. Via menatap Ana yang memandang Rena penuh neraka.
‘Gini nih kalo udah dekat hari H.. gaada
bedanya kayak study tour dulu’ batin Via.
..
Ela meletakkan note kecil dimeja Via “ini barang-barang
yang kita butuhin buat study tour kan?” Via sontak mengambil kertas itu.
“ho’ooh” sahut Via meletakkan kembali kertasnya di atas
meja.
“aku udah packing dari kemarin lusa bahkan” sahut Rena
tersenyum bangga. Ana menoleh dan tersenyum binar “aku juga” sambungnya bangga.
Hari H
“Assstaaaggaaaa Annaaa.....Kamu bawa apaan?” pekik Rena
kaget. Via dan Ela terpaku menatap koper shocking
pink Ana yang beratnya mereka tafsir mencapai 5 kilo.
Ana tersenyum bangga, “pokoknya ga bakal kekurangan
apa-apa deh kita”. Rena menatap kedua sahabatnya yang masih terpaku lalu
kembali menatap Ana “coba sebutin barangnya!” suruh Rena. Ana memutar bola
matanya mencoba mengingat. “ada setrikaan, hunger,gayung,heels----
Rena melengos pasrah.
..
“biarin
aja sih. Yang mau juga dia, kalo kamu takut Ana nyusahin kita yasudah tinggal
aja di Airport” Celetuk Ela yang daritadi diam. Sontak kami semua menoleh,
tidak termasuk Ida yang sekarang sudah bergabung dengan teman-temannya.
“AWAS
LOE TIDUR BARENG GUE!!!!!!” Teriak Ana murka ke arah ella. Via tersenyum
memandang Rena.
“Ssstt..
ayok kita pulang! Lusa kita udah Prom dan sabtu kita berangkat ke Jerman, so
siapin diri kalian !” ajak Via tenang lalu berjalan keluar kelas setelah berpamitan
kepada teman-teman lainnya yang masih sibuk dengan urusan sekolah yang belum
kelar.
-----------------------------
Via, Rena, Ana dan
Ela termasuk orang yang beruntung dengan mendapatkan beasiswa dari pemerintah
kotanya untuk melanjutkan pendidikan di negeri orang. Dari banyaknya pendaftar
yang ikut dalam seleksi beasiswa, mereka adalah orang yang lolos melalui tahap
yang tidak mudah. Mereka memilih Jerman sebagai tempat mereka melanjutkan
pendidikan, Negara yang sangat mementingkan murid
ketimbang hal lain, dalam bidang kesehatan seperti Human Medicine , Pharmacist
and etc. Tapi kayak yang kita tau, gak semudah itu untuk
bisa masuk kuliah di Universitas terbaik di Jerman. Dengan melewati tahap Studienkolleg
untuk bisa masuk ke jurusan Farmasi,
lalu mendaftar ke Universitas yang kami inginkan. Kami tertarik dengan
Universitas Humberg-Nord, walaupun semua universitas di Jerman sangat tidak
jauh bedanya karena semua Universitas yang memiliki jurusan Pharmacist dan Human Medicine adalah universitas yang benar-benar High
Standar yang menyediakan puluhan rumah sakit khusus di kampusnya, Rumah kami
–yang akan kami tinggali- tidak jauh dari kampus dan itu sangat menguntungkan
bagi kami.
----------------------------------
Samarinda,
Kamis 14 April 2012 19 : 25 WITA
@Aston
Hotel Ballroom, Samarinda
Satu persatu siswa
SMK Farmasi yang belum lama menjadi Alumni ke- 16 di Smk Farmasi memasuki
ruangan Ballroom yang sudah di dekor senyaman mungkin sesuai dengan selera
remaja muda tahun ini.
Di pojok ruangan
Via dan Rena menunggu Ana dan Ela yang sebentar lagi akan tiba. Mereka berdiri
di dekat stand cocktail berada. Via mengedarkan
pandangannya keseluruh ruangan sambil menyesap minumannya pelan. Sedangkan Rena
asyik dengan i-Phonenya sejak tadi.
Tidak lama kemudian
dua gadis berjalan ke arah mereka dengan menggunakan dress code “black-magic” yang sudah ditetapkan
panitia Prom night tahun ini. Ana menggunakan night gown dengan thin silver
ban di pinggangnya yang menjuntai
melewati mata kakinya yang dipakaikan weak
heels. Sedangkan Ela menggunakan Glamour
Gown with hijab yang lagi nge-trend tahun ini yang dipastikan semua yang
digunakan pas di badannya.
“kita tepat waktu
kan?” Tanya Ana sesampainya di hadapan Rena yang menggunakan Black Tube Dress nya yang sebatas lutut
dan Pump heels bludru.
“iya tepat…. Tepat
telatnya ! telat lebih dari 30 menit!” ucap Rena penuh tekanan. Sedangkan Via
yang masih berdiri tenang di sampingnya hanya tersenyum maklum.
“udahlah.. udah
biasa mereka telat” ucap Via santai. Ana dan Ela tersentak.
Rena mengambil dua cocktail lalu memberikannya pada Ana
dan Ela. Lalu mereka berbincang masalah
kuliah serta keberangkatan mereka ke Berlin 3 hari lagi menggunakan bahasa
Jerman. Hitung-hitung memperlancar kemampuan kami dalam berbahasa Jerman
sehingga memperkecil kemungkinan Roaming
dalam bicara dan mendengarkan karena Jerman tidak menggunakan English dalam bahasa kesehariannya.
Ditengah-tengah perbincangan
mereka---
“ehem” dehem
seseorang di belakang punggung Via. Sontak Via berbalik dan yang lain menatap orang
itu bingung. Via sedikit terbelalak. ‘Ian?’
ucap Via spontan dalam hati.
Ian tersenyum
manis. “hai.. maaf mengganggu, Cuma pengen bicara sebentar sama kamu Vi, bisa?”
. Via memandang Ian curiga, namun yang ditatap tetap tersenyum tenang. Via
mendengus lalu mengangguk menerima uluran tangan Ian dihadapannya, sebelumnya
Via pamit permisi sebentar pada teman-temannya.
Rena, Ela dan Ana
saling berpandangan curiga sambil melirik pasangan yang berjalan menjauhi
tempat mereka. ‘what will happens’ batin
mereka.
-------------------------
Via dan Ian
berjalan menjauhi pojok ruangan menuju ke podium yang ada di tengah ballroom.
Terdengar lagu Awake dari band Second Serenade yang mengalun histeris
di bagian akhir lagu.
Ian menghentikan
langkahnya saat mereka tiba di tengah ruangan. Via mendongak memandang wajah
Ian yang jauh dari wajahnya, tinggi Via hanya mencapai dagu Ian. Ian tersenyum
manis dan menarik tangan Via menggapai tengkuknya sendiri dan meletakkan
tangannya sendiri ke pinggang Via yang mengenakan Long Black Dresses with Low neck yang pas sekali di tubuhnya. Ian
tersenyum melihat Via yang masih memandangnya polos.
“What’s going on?”
Tanya Via setelah sekian lama mereka terdiam. Ian mulai mengajak tubuh Via
bergerak mengikuti alunan lagu saat lagu berhenti dan digantikan dengan Don’t You Remember dari Adele.
“Just want to spend
my time with you before I couldn’t see you anymore since you have to go to
Germany and start to forget me” jawab Ian tenang seolah yang dibicarakan adalah
hal mengenai cuaca di Indonesia yang sedang buruk bukan mengenai hal hati.
Wajah Via mengeras.
“ Do you think I’d go to foreign collage to forget you? The reason just you? Oh
For a God sake I think I getting
crazy if that is really the reason why I leaving my Country ! You’re suck boy
!”. Via menghentakkan tangan Ian yang berada di pinggangnya seraya memundurkan
langkahnya menjauhi Ian yang masih terlihat tenang. Muka Via merah padam
menahan amarah.
Ian mendekati Via,
spontan Via juga memundurkan langkahnya. “Vi.. it’s not like what’s on your
mind ! aku tau kamu pergi buat kuliah tapi ga sejauh itu kan?” Tanya Ian
menenangkan. Via mengangkat alisnya bingung sambil tersenyum miring. “it’s not
your business Mr. Ian !”
Ian mendengus dan
kembali mendekati Via yang kali ini tidak menolak untuk di dekati. “Aku cuma
mau sahabatan lagi sama kamu. Is it wrong?” . Via tersenyum sinis “after you
tore my heart?”
“I’m so sorry ‘bout
that. That’s just a memory-
“for you ! Not at
all for me” potong Via keras. Kali ini suasana agak sedikit sepi mengingat jam
sudah menunjukkan saat makan malam sehingga tak banyak yang mengetahui
keributan kecil mereka.
How
about around of applause? A standing ovation
You
look so dumb right now
Standing
outside my house , trying to apologize
“kamu ga pernah tau
rasanya seperti aku saat itu. Aku ga berharap kamu ngerasain dari aku. Karna
aku di lahirkan bukan untuk menyakiti seseorang ! bukan sepertimu !”
Please
, just cut it out
Don’t
tell me a sorry cause you’re not
Baby
when I know your always sorry you get cough
“Vi-
“enough ! we’re
over. No friend, no mate , no anyone anymore. From now!”
Via mundur menjauhi
Ian yang masih terpaku dan wajah terkejutnya. Via berbalik –tes sekuat hati Via menahan semuanya dan
kali ini ia berjanji dalam hatinya. Ini akan jadi yang terakhir –terakhir menangisi Ian-
-------
“Makanannya
kekerasan”
“makan ya makan aja
gausah ngomel!”
“kenapa sih?
Suka-suka dong~!”
Rena mengambil
sepiring acar lalu meletakkannya di depan Ana dan Ela.
“kenapa?” Tanya Ana
dan Ela bingung. Rena memutar bola matanya jengkel. “tuh makan berdua awas kalo
ga abis!”
“Iewh~!!!!” keluh
Ana dan Ela barengan. “kalian itu Ribut tau gak!” omel Rena “ga penting aja
diributin!”
“Ela tuh nah~ too
noisy !” jawab Ana sambil melotot garang ke Ela, yang dipelototi mengerutkan
kening bingung “kok aku?”
“shutup!” potong Rena sebelum perseteruan mereka berlanjut. “Kalian
itu—
Brakk—
Rena, Ana dan Ela
terlonjak di kursinya. Via duduk di kursinya secara kasar setelah meletakkan
piringnya dengan kasar pula. Via mendengus kasar lalu mencoba melahap hidangan
yang sempat diberikan panitia saat akan kembali ke tempatnya.
“Kamu kenapa?” tanya
Ana pelan melihat Via memotong beef poutine
steaknya dengan brutal. Ela memandang ke arah piring Via miris ‘bertahanlah nak.. ibu menunggu kaudatang
kemari’batinnya.
Via menghentikkan aksi
memutilasi appetizer nya dan
memandang Ana “pingin bunuh orang” jawabnya ketus.
“gue?”
“bukan”
“terus?”
Via mendorong
piringnya yang sama sekali masih penuh -hanya saja bentuknya saja tak karuan-
ke tengah meja bundar. Ela yang melihatnya langsung berbinar dan mengambil
piring Via ‘haha..akhirnya kau datang
juga nak’batin Ela bahagia. Rena yang sempat melirik Ela melengos tak
peduli membiarkannya.
“aku pusing” Via
mengusap pelipisnya pelan.
‘oke.. sekarang waktunya penampilan dari Band Kakak tingkat kami
diangkatan ke -16 ini..’
Prok..prokk
Via memandang kearah
panggung yang jauh di depannya karena meja mereka terletak di dekat pintu masuk
Ballroom.
Bintang malam katakan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
Sontak ketiga partner-in-crime Via menatap Via, Via melirik satu persatu
sahabatnya miris ‘pingin nangis..huaaa’batin
Via. Ana mengusap pelan bahu terbuka Via. Brukk-
Via menjatuhkan kepalanya ke meja. Ketiga sahabatnya berpandangan dalam diam
lalu pura-pura sibuk dengan makanannya.
----------------------------
Balikpapan, Sabtu 16 April 2012 10:00 WITA
@Sepinggan International Airport
Keempat orang tersebut
berjalan tenang menuju Lounge Area
tempat mereka menunggu Boarding time
setelah check in tadi. Ini hari
terakhir mereka berada di Tanah Air tercinta, sebelum pesawat mereka terbang ke Jerman kurang lebih 2 jam lagi.
Mereka memasuki
ruangan tertutup khusus penerbangan International. Mereka berjalan mencari
kursi kosong di sebelah utara. “Biar nanti kita ga usah antri lagi, kan deket
pintu penerbangan” kata Rena.
“eh tapi aku lapar”
ucap Ela memberhentikan langkah kami. “lagi?” tanya Via bingung. Masalahnya
tadi mereka sudah makan. Ela mengangguk lemas. Akhirnya mereka pergi ke jejeran
food counter Chinesse yang tidak
begitu ramai. Mereka duduk di dekat jendela bening yang menghadap keluar kearah
pesawat-pesawat besar nan-angkuh itu berjejer.
“excuse me..are you ready to order Miss?” tanya waitrees membuat
mereka langsung mengucapkan pesanan mereka. Cuma Ela yang memesan makanan.
“okay.. 1 Gongbao Jiding, 2 Cappucino Float , 2 Naicha. Wait for 15 minutes
please” Mereka tersenyum dan mengangguk mempersilahkan waitrees tersebut
pergi.
“La, kamu ga kenyang
apa? Tadi kita udah makan bakso, sekarang kamu mesen Gongbao jiding lagi?” tanya Via heran “awas kalo muntah di pesawat
nanti” lanjut Via. Ela mengangguk mengiyakan.
Gongbao Jiding itu
masakan China yang asli pedes banget. Kalo di Indonesia mungkin namanya Ayam Pedes manis tapi super super pedes
kali ya, rasanya itu loh menggelegar banget.
Berapa menit kemudian
makanan mereka datang. Dan mereka menyantap hidangannya masing-masing.
--------
Ting-
For all passengers, doors of Gordon Airplane boeing 767
towards Berlin was opened. Please do all passengers to board the plane soon.
Thank you-
Ting-
Suara intercom
menyadarkan Via , Ela , Ana dan Rena yang sibuk dengan urusannya masing-masing.
Mereka berdiri dan mulai ikut mengantri.
Via di urutan paling
depan di antara sahabatnya memegang tiket mereka agar lebih cepat proses
pengecekan tiket. Sebenarnya mereka berada di urutan kedua dari belakang tapi—
“Beeilen sie sich! Wir kommen zu
spatwie gestern !” –ayo cepat!
Nanti kita terlambat lagi seperti kemarin!-
Terdengar segerombol
orang dibelakang Via dan yang lainnya berseteru dengan aksen yang mereka tau –aksen deutsch-. Sepertinya mereka baru
datang dan langsung mengantri. Via dan yang lain melangkah perlahan mengikuti
alur yang maju perlahan dan menuju kabin, seolah tak perduli mereka terus melangkah.
“Hey! Es ist deine
Schuld du! Nur lastig!!” –Hei! Itu salahmu kau tau? Menyusahkan saja-
Satu penumpang lagi
terlewat adalah giliran Via.
“Es ist zum Artz
gehen?” –kenapa lama sekali?- . Via mengumpat dalam hati ‘ga sabaran banget sih ni cowok’ batinnya.
Via tersenyum dan
menyerahkan tiketnya saat- Hei!! . Via memandang sebal ke arah cowok jangkung
yang –kalau tidak salah- cerewet di
belakangnya sejak tadi. Rena,Ela dan Ana melotot kaget melihat segerombol pria
yang sedari tadi ribut di belakang mereka kini menyerobot barisan mereka.
“Hei! Banks!”
–Banci- umpat Via. Pria di depan Via
menoleh sebentar lalu kembali menghadap ke depan dan berjalan memasuki kabin.
Via mendengus kesal menatap gerombolan pria itu dan menyerahkan tiket secara
kasar tanpa mengalihkan pandangannya.
Rena dan yang lain
mendahului Via melangkah ke dalam kabin pesawat.
- Continue -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar